KENDARI – Prestasi gemilang kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Mandala Waluya (UMW), khususnya dari Fakultas Analis Kesehatan. Pada Kompetisi Riset dan Inovasi Kesehatan Tingkat Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di Jakarta, tim mahasiswa dari UMW berhasil meraih posisi juara pertama kategori riset bidang teknologi diagnostik kesehatan.
Tim yang terdiri dari empat mahasiswa Fakultas Analis Kesehatan, yaitu Siti Nurhaliza (semester VI), Muhammad Rizki Pratama (semester VII), Dina Kusumawati (semester VI), dan Arief Rahman Saputra (semester VIII), berhasil mengalahkan peserta dari universitas-universitas ternama di Indonesia. Mereka memenangkan kompetisi dengan penelitian berjudul “Pengembangan Sensor Biosensor Berbasis Nanopartikel Emas untuk Deteksi Cepat Antigen COVID-19 dengan Akurasi 98 Persen”.
Pencapaian ini menjadi sebuah momentum penting bagi Universitas Mandala Waluya, terutama Fakultas Analis Kesehatan yang terus membuktikan kompetensi dan inovasi akademisnya di tingkat nasional. Perjalanan tim ini dimulai sejak enam bulan lalu dengan bimbingan intensif dari dosen pembimbing mereka.
### Latar Belakang Pencapaian
Universitas Mandala Waluya, yang berlokasi di Kendari, Sulawesi Tenggara, telah lama dikenal sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen dalam menghasilkan lulusan berkualitas di bidang kesehatan. Fakultas Analis Kesehatan, yang merupakan salah satu fakultas unggulan di universitas ini, secara konsisten menghasilkan profesional analis kesehatan yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja nasional maupun internasional.
Namun, prestasi Siti Nurhaliza dan timnya bukan sekadar keberuntungan biasa. Sejak awal program semester, tim ini menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengikuti serangkaian program penunjang akademik di Fakultas Analis Kesehatan. Mereka aktif dalam setiap seminar, workshop, dan pelatihan yang diselenggarakan oleh kampus.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian tim ini. Mereka telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, dan inovasi yang patut menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya,” ungkap Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, M.Sc., dalam wawancara eksklusif dengan media kampus pada Kamis, 17 April 2026.
### Riset yang Mengubah Paradigma
Riset yang dikerjakan oleh tim mahasiswa ini memiliki signifikansi mendalam dalam dunia kesehatan modern. Penelitian mereka fokus pada pengembangan sensor biosensor berbasis nanopartikel emas yang mampu mendeteksi antigen COVID-19 dengan cepat dan akurat, mencapai tingkat akurasi 98 persen dalam waktu deteksi kurang dari 15 menit.
Siti Nurhaliza, ketua tim sekaligus penulis utama riset, menjelaskan bahwa ide penelitian ini berawal dari pengamatan mereka terhadap keterbatasan alat diagnostik COVID-19 yang masih ada di beberapa daerah terpencil di Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara.
“Kami melihat bahwa test antigen atau PCR masih memerlukan waktu dan biaya yang relatif tinggi bagi sebagian masyarakat. Oleh karena itu, kami tertarik untuk mengembangkan teknologi diagnostik yang lebih cepat, akurat, dan terjangkau,” jelas Siti Nurhaliza dalam pertemuan dengan media, Kamis pagi lalu.
Penelitian ini melibatkan laboratorium modern Fakultas Analis Kesehatan UMW yang dilengkapi dengan peralatan spektrofotometri, mikroskop elektron transmisi, dan berbagai instrumen analitik lainnya. Proses riset memakan waktu enam bulan penuh, dengan melakukan ratusan kali percobaan untuk memastikan efektivitas sensor yang dikembangkan.
Muhammad Rizki Pratama, anggota tim yang bertanggung jawab pada aspek teknis pengembangan sensor, menambahkan bahwa mereka menggunakan metodologi penelitian yang ketat dan berbasis bukti ilmiah.
“Setiap tahap penelitian kami melalui prosedur quality control yang ketat. Kami melakukan minimal 100 kali replikasi untuk setiap batch nanopartikel emas yang diproduksi,” ungkap Rizki dengan penuh kebanggaan.
### Bimbingan dan Dukungan Institusional
Kesuksesan tim ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari institusi. Dosen pembimbing utama, Dr. Hendra Wijaya, M.Si., seorang ahli dalam bidang nanoteknologi kesehatan, memberikan bimbingan intensif sejak awal proses penelitian.
“Tim ini menunjukkan potensi luar biasa sejak awal. Mereka tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki semangat ilmuwan yang tinggi. Mereka selalu ingin bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi inovatif,” ungkap Dr. Hendra Wijaya dalam kesempatan terpisah.
Selain itu, Dekan Fakultas Analis Kesehatan, Dr. Ratna Sari, M.Kes., juga turut memberikan dukungan administratif dan finansial untuk memastikan riset ini dapat berjalan optimal. Universitas Mandala Waluya juga mengalokasikan dana khusus dari anggaran penelitian untuk mendukung berbagai penelitian mahasiswa yang potensial.
“Sebagai institusi pendidikan, kami percaya bahwa investasi pada riset mahasiswa adalah investasi pada masa depan bangsa. Kami berkomitmen untuk terus mendorong mahasiswa kami agar mampu menghasilkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Dr. Ratna Sari.
### Kompetisi yang Ketat
Prestasi ini semakin bermakna mengingat tingginya tingkat kompetisi dalam Kompetisi Riset dan Inovasi Kesehatan Tingkat Nasional 2026. Acara yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, pada tanggal 15-16 April lalu, menghadirkan lebih dari 150 tim riset dari universitas-universitas di seluruh Indonesia.
Peserta berasal dari universitas-universitas papan atas seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Universitas Diponegoro. Dalam kategori riset bidang teknologi diagnostik kesehatan saja, ada 32 tim yang bersaing.
Panel juri yang terdiri dari professor dan peneliti berpengalaman dari berbagai institusi dan industri kesehatan terkemuka mengevaluasi setiap presentasi dengan kriteria yang sangat ketat, meliputi orisinalitas riset, metodologi, signifikansi hasil, dan potensi aplikasi praktis.
“Ketika kami melihat hasil penelitian dari tim Universitas Mandala Waluya, kami sangat terkesan. Tidak hanya riset mereka orisinal dan metodologis, tetapi juga memiliki potensi aplikasi praktis yang sangat tinggi untuk kesehatan masyarakat. Sensor yang mereka kembangkan benar-benar bisa membuat perbedaan di lapangan,” komentar Prof. Dr. Irwan Prayogo, Ph.D., salah satu anggota panel juri yang merupakan profesor dari Universitas Indonesia dan ahli diagnostik kesehatan.
### Hadiah dan Pengakuan
Sebagai pemenang juara pertama, tim mahasiswa UMW meraih hadiah total sebesar Rp 150 juta rupiah. Selain itu, mereka juga mendapatkan sertifikat penghargaan resmi dari Kemendikbudristek, kesempatan untuk mempublikasikan hasil riset di jurnal nasional terakreditasi, dan undangan untuk mempresentasikan penelitian mereka di forum internasional.
Hadiah ini akan digunakan oleh tim untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut dan mempersiapkan publikasi ilmiah di tingkat internasional. Dina Kusumawati, anggota tim yang fokus pada aspek publikasi ilmiah, telah memulai proses penulisan manuscript untuk disubmitkan ke beberapa jurnal internasional ternama dalam bidang diagnostik kesehatan.
“Target kami adalah agar hasil riset ini bisa dipublikasikan di jurnal dengan impact factor tinggi. Kami ingin agar penemuan kami bisa diketahui oleh komunitas ilmuwan global dan semoga bisa berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan,” ucap Dina dengan antusiasme.
### Dampak dan Signifikansi
Prestasi tim mahasiswa ini tidak hanya berdampak positif bagi individu mereka sendiri, tetapi juga bagi institusi dan masyarakat luas. Bagi Universitas Mandala Waluya dan khususnya Fakultas Analis Kesehatan, prestasi ini memperkuat reputasi institusi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia berkualitas di bidang kesehatan.
Arief Rahman Saputra, anggota tim yang bertanggung jawab pada aspek data analysis, menekankan pentingnya riset semacam ini untuk kesehatan masyarakat.
“Kami percaya bahwa teknologi yang kami kembangkan ini bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil yang keterbatasan akses ke alat diagnostik modern. Dengan sensor yang kami buat, deteksi penyakit bisa dilakukan lebih cepat dan terjangkau,” ujar Arief.
Dari perspektif kesehatan publik, pengembangan sensor biosensor ini memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan sistem surveilans kesehatan nasional dan mempercepat deteksi dini penyakit menular. Teknologi ini juga bisa diadaptasi untuk mendeteksi antigen penyakit lainnya, membuka peluang aplikasi yang lebih luas.
Universitas Mandala Waluya juga telah mengeksplorasi kemungkinan kerjasama dengan industri untuk mengkomersialisasi teknologi ini. Dr. Ratna Sari mengungkapkan bahwa universitas sedang dalam tahap diskusi dengan beberapa perusahaan diagnostik untuk membahas potensi transfer teknologi.
### Peran Pendidikan Berkualitas
Kesuksesan tim ini juga merefleksikan komitmen Universitas Mandala Waluya terhadap pendidikan berkualitas dan penelitian yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Kurikulum Fakultas Analis Kesehatan dirancang untuk mengintegrasikan aspek teori dan praktik, serta mendorong mahasiswa untuk berinovasi sejak awal studi mereka.
Rektor Bambang Sutrisno menekankan pentingnya menciptakan ekosistem akademik yang mendukung inovasi dan penelitian mahasiswa.
“Di era globalisasi ini, universitas tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga untuk menghasilkan inovasi dan pengetahuan baru. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan fasilitas penelitian, meningkatkan kualitas tenaga pengajar, dan menciptakan lingkungan akademik yang kondusif bagi penelitian mahasiswa,” jelas Rektor Sutrisno.
Program dukungan penelitian mahasiswa di Universitas Mandala Waluya mencakup beasiswa penelitian, akses ke fasilitas laboratorium modern, dan mentoring intensif dari dosen-dosen berpengalaman. Universitas juga secara aktif mendorong mahasiswa untuk mengikuti kompetisi dan presentasi ilmiah di berbagai forum nasional dan internasional.
### Harapan ke Depan
Dengan prestasi ini, tim mahasiswa UMW membuka inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan. Rektor Sutrisno mengungkapkan harapan bahwa prestasi ini akan menjadi momentum untuk meningkatkan publikasi dan inovasi dari universitas.
“Kami tidak puas dengan satu prestasi ini. Kami berharap ini menjadi awal dari serangkaian prestasi yang akan diraih oleh mahasiswa-mahasiswa UMW lainnya. Kami akan terus meningkatkan investasi pada penelitian dan inovasi,” katanya.
Sementara itu, Dr. Hendra Wijaya juga optimis bahwa hasil riset ini bisa berlanjut ke level yang lebih tinggi.
“Saya sudah mengajukan proposal untuk mendapatkan pendanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan penelitian ini lebih lanjut. Tim ini memiliki potensi untuk menjadi peneliti-peneliti muda berbakat yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia,” harap Wijaya.
### Penutup
Prestasi Siti Nurhaliza, Muhammad Rizki Pratama, Dina Kusumawati, dan Arief Rahman Saputra dari Fakultas Analis Kesehatan Universitas Mandala Waluya membuktikan bahwa inovasi dan penelitian berkualitas bisa lahir dari mana saja, tidak hanya dari universitas-universitas besar di kota-kota besar. Dedikasi, kerja keras, dan dukungan institusional yang tepat adalah kunci kesuksesan.
Ke depannya, tim ini tidak hanya akan melanjutkan penelitian mereka, tetapi juga akan menjadi duta inovasi bagi kampusnya. Universitas Mandala Waluya juga berkomitmen untuk terus mendukung penelitian dan inovasi mahasiswa, mengingat pentingnya kontribusi akademik pada pembangunan bangsa.
Dengan prestasi ini, Universitas Mandala Waluya telah membuktikan bahwa perguruan tinggi di daerah tertentu juga mampu menghasilkan penelitian berkualitas tinggi yang bisa bersaing dengan universitas-universitas ternama. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya dan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dan berkontribusi pada kemajuan sains dan teknologi nasional.
—
Artikel ini ditulis berdasarkan informasi resmi dari Universitas Mandala Waluya dan wawancara dengan berbagai pihak terkait pada tanggal 17 April 2026.